Indonesia Church of Christ

Analityc

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 12 Juli 2016

Perumpamaan Tentang Talenta


Judul: Perumpamaan tentang Talenta
Teks: Matius 25:14-30


Prolog:
 Selamat Malam, Salam Sejahtera bagi kita semua. Kembali berjumpa bersama saya Anton, pada malam ini kita akan mendengar renungan Firman Tuhan mengenai perumpamaan tentang talenta yang diambil dari kita Matius 25:14-30; Saya akan bacakan untuk kita semua...
Matius 25:14-30 (TB)  "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
Renungan:
Nats yang kita baca merupakan perumpamaan yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Yesus mengumpamakan Kerajaan Sorga sama seperti seseorang yang akan pergi ke luar negeri. Dia memanggil hamba-hamba dan memberikan masing-masing hambanya 5 talenta, 2 talenta, dan satu talenta menurut kemampuan masing-masing hambanya.
Makna perumpamaan:
Tuan = Kristus
Hamba = orang percaya
Talenta = karunia Tuhan
Berbicara mengenai talenta, maka kita harus mengetahui apakah talenta itu? Talenta merupakan satuan berat dan mata uang pada zaman kuno di Roma, Yunani, dan Timur Tengah. Di PL, talenta digunakan untuk mengukur berat logam mulia seperti emas dan perak, sementara di PB banyak digunakan untuk mata uang. Satu talenta sekitar 34 kg, atau 6.000 dinar. (Dinar = Mata uang Romawi senilai upah harian seorang buruh). Jika upah sehari = Rp 50rb, maka 1 talenta/ 6000 dinar = Rp 300 jt. Suatu jumlah yg sangat besar.
Tuan dalam perumpamaan ini memahami betul akan masing2 hambanya, sehingga ia mempercayakan talenta berdasarkan kemampuan masing2 hambanya. Dari ketiga hamba yang diberikan kepercayaan untuk menjalankan talenta, 2 hamba setia menjalankan talentanya, namun hamba ketiga tidak menjalankan talentanya justru menguburkannya.
Hamba pertama diberi 5 talenta dan berhasil mendapat keuntungan 5 talenta. Hamba kedua pun demikian, ia mendapat 2 talenta dan mendapatkan untung 2 talenta. Setelah mengerjakan harta yang dipercayakan hamba pertama mendapatkan 5 talenta dan hamba kedua menghasilkan 2 talenta, berbeda secara jumlah secara signifikan dengan hamba yang pertama.
Pada waktu tuan mereka datang kembali, ia membuat perhitungan dengan hamba-hambanya. Hamba pertama dan kedua menghadap dengan membawa talenta yang dipercayakan kepada mereka beserta dengan labanya. Jadi hamba pertama membawa 10 talenta dan hamba kedua 4 talenta. Apa respon tuan mereka? Dari seluruh kalimat yang diucapkan oleh tuan tersebut klausa terpenting yang memberikan pesan kunci tentang apa yang telah dikerjakan oleh hamba-hamba tersebut adalah “hamba yang baik dan setia.” Kata “baik dan setia” tidak bisa dipisahkan karena kedua kata tersebut mempunyai pesan yang sama. Baik yang dimaksud adalah karena mereka setia kepada perkara yang dipercayakan kepada mereka. Tuan tersebut mengatakan bahwa perkara itu adalah perkara kecil karena ia akan mempercayakan mereka perkara yang besar. Sikap setia pada perkara kecil adalah sikap yang baik. Kesetiaan dan kebaikan mereka mendapatkan buah yang lain yaitu kepercayaan untuk perkara-perkara besar. Baik hamba pertama dan hamba kedua mendapatkan kepercayaan perkara besar yang sama.
Hamba ketiga (24-27)
Tidak seperti hamba pertama dan kedua, hamba ketiga ini tidak pergi menjalankan 1 talenta yang dipercayakan kepadanya. Sebaliknya ia pergi menggali lobang dan menyimpan talentanya di dalam tanah sehingga talenta itu tidak berlaba, jumlahnya tetap sama. Pada waktu tuannya datang, yang lain mengembalikan 2x lipat, ia hanya mengembalikan sejumlah yang diberikan oleh tuannya. Mengapa hamba ketiga gagal dalam kepercayaan yang diberikan kepadanya? Jawabannya tersirat dalam jawabannya hamba ketiga ini dan respon tuannya.

Berbeda dengan dua hamba yang lain, hamba ketiga tidak memulai dialog dengan menjelaskan bagaimana keberadaan harta yang telah dipercayakan tuannya itu kepadanya. Ia justru memulainya dengan memberikan sebuah pembenaran atas apa yang sudah ia lakukan terhadap talenta yang dipercayakan kepadanya. Ia mengatakan bahwa ia tahu bahwa tuannya itu adalah seorang yang kejam skleros. Kata yang hanya digunakan oleh Matius. Kejam yang dimaksud oleh hamba ketiga ini lebih lanjut dijelaskan dalam 2 hal. Tuan itu kejam karena dia (a) menuai di tempat di mana tuan tidak menabur, dan (b) memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Jika diperhatikan dengan seksama sebenarnya kedua klausa ini memiliki arti yang sinonim karena kata-kata yang digunakan bersifat paralel; menuai = memungut, menabur = menanam. Ia salah mengerti mengenai tuannya. Ia tidak mengenal siapa tuannya dan apa maksud tuannya mempercayakan harta 1 talenta itu kepadanya. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk menanam saja uang tersebut dan kemudian mengembalikan talenta itu utuh kepada tuannya, tidak kurang dan tidak lebih. Ia melihat tuannya itu sebagai tuan yang kejam, yang bersikap picik dan hanya memanfaatkan dirinya, itulah sebabnya ia tidak mengerjakannya. Perumpamaan ini tidak mengatakan bahwa hamba ketiga ini iri hati kepada 2 hamba yang lain karena mereka diberikan lebih banyak dari pada dirinya. Jadi kegagalan hamba ketiga ini bukan disebabkan karena ia tidak puas dengan pembagian 5, 2 dan 1.

Hamba ketiga gagal melabakan talenta yang diberikan kepadanya. Jika hamba ketiga tidak bisa menghasilkan 1 talenta dari apa yang diharapkan dari padanya, apakah tuannya kurang mengenal hamba tersebut sehingga salah perhitungan dengan memberikannya 1 talenta? Jawabannya adalah sebaliknya! Hamba ketiga ini sebenarnya mampu menghasilkan laba 1 talenta lagi sehingga sepulangnya tuan mereka dari perjalanan ia memiliki 2 talenta di tangan. Kemampuannya 1 talenta tetapi menghasilkan 0, maka tuannya mengatakan “engkau hamba yang jahat dan malas.” Sama seperti kasus dua hamba yang lain, kata jahat dan malas merupakan satu kesatuan, jahat berarti ia malas mengerjakan apa yang dipercayakan kepadanya. Ia tidak perlu menghasilkan 5 atau 2 talenta, tuannya tidak meminta sejumlah demikian. Ia diberikan 1 karena ia PASTI mampu menghasilkan 1 talenta lagi, di mata tuannya hamba ketiga ini adalah hamba yang malas tidak dapat dipercaya, tidak mau maksimal oleh karena itu ia tidak akan dipercayakan perkara-perkara yang besar karena hanya dengan perkara yang kecil saja ia tidak setia mengerjakannya. Atas ketidak setiaan hamba ketiga ini, ia mendapat hukuman dari tuannya.

Sejak awal, pada waktu ia pergi, tuan itu telah merencanakan untuk memberikan kepercayaan yang besar kepada hamba-hambanya. Dipercayakan 5, 2 dan 1 talenta adalah perkara kecil, meskipun secara nilai, harta sejumlah itu sangat besar. Mengelola dan mengerjakan talenta-talenta itu adalah ujian apakah mereka layak untuk mendapatkan atau dipercayakan perkara-perkara yang besar. Yang dituntut bukanlah angka tetapi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dua hamba pertama menunjukkan kualitas diri mereka bahwa mereka adalah hamba-hamaba yang baik dan setia, mereka mampu menghasilkan talenta sejumlah kemampuan mereka.

Apabila semua hamba dipercayakan sama banyak, misalnya masing-masing diberikan 10 talenta, apakah ketiga hamba itu akan menghasilkan masing-masing 10 talenta? Jawabannya “tidak.” Karena seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa tuan mereka memberikan talenta-talenta itu berdasarkan kemampuan mereka untuk mengelolanya. Hamba pertama diberikan 5 talenta karena kemampuannya adalah menghasilkan laba 5 talenta, jika ia dipercayakan kurang dari 5 talenta maka ia tidak akan maksimal. Demikian pula halnya dengan hamba kedua dipercayakan 2 talenta karena dengan jumlah demikian ia bisa maksimal, yakni menghasilkan 2.

Sejumlah talenta yang dipercayakan ini bukanlah berbicara mengenai uang atau harta semata melainkan tentang kesetiaan dalam kepelayanan hamba-hamba tersebut kepada tuan mereka. Pesan perumpamaan secara keseluruhan adalah BERBUAH dan BERTANGGUNG JAWAB atas semua yang Tuhan percayakan baik itu waktu, kemampuan, uang, dsb. Semuanya itu Allah berikan supaya orang-orang percaya menggunakannya sebaik mungkin bagi kemuliaan Allah.

Konsep talenta ini seharusnya membuat orang-orang percaya tidak saling cemburu karena beberapa orang mengerjakan banyak perkara yang besar sementara sebagian lagi hanya mengerjakan pekerjaan yang sederhana. Sebagian orang Kristen diberikan karunia yang luar biasa sehingga mereka dapat melakukan banyak hal dengan sangat baik tetapi sebagian lagi hanya bisa mengerjakan sedikit. Tuhan SELALU memberikan pelayanan berdasarkan kemampuan orang tersebut untuk mengerjakannya dengan baik. Oleh karena itu orang yang dipercayakan banyak harus bekerja lebih keras dan orang-orang yang dipercayakan hanya sedikit tidak boleh merasa diri kecil. Setiap orang memiliki bagiannya sendiri-sendiri karena itu setiap orang percaya harus menggumulkan apa yang menjadi bagiannya dan mengerjakannya dengan setia sampai waktu yang dipercayakan itu selesai.

Kesimpulan:
Kita telah mendengar firman Tuhan mengenai perumpamaan talenta. Semoga firman Tuhan pada malam ini memberi dorongan bagi kita semua. Mari kita berdoa, Tuhan, Allah bapa kami di dalam sorga, terima kasih atas firman Tuhan yg sudah kami dengarkan bersama mengenai perumpamaan talenta. Biarlah firmanMu menjadi pedoman dalam kehidupan kami setiap harinya. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan mengucapkan syukur kepada-Mu. Amin.


Perumpamaan Tentang Hamba yang Setia dan Hamba yang Jahat


Perumpamaan Tentang Hamba yang Setia dan Hamba yang Jahat
Teks: Matius 24:45-51

Prolog:
Shalom, selamat malam saudara pendengar dimanan pun Anda berada. Berjumpa kembali bersama saya Anton dan kali ini kita akan bersama-sama mendengarkan renungan Firman Tuhan yang diambil dari kitab Injil Matius 24:45-51. Mari kita baca bersama...
Diskusi:
Nats Alkitab kita pada hari ini masih berada dalam 1 tema besar yaitu mengenai eskatologi ajaran teologi tentang akhir zaman). Eskatologi berbicara mengenai hari terakhir dari seluruh perjalanan sejarah. Hari terakhir itulah yang sering disebut sebagai kiamat. Kita hidup dalam momen-momen waktu dan yang patut dipertanyakan adalah bagaimana kita hidup menapaki eskatologi. Banyak orang dibingungkan dengan senantiasa bertanya kapan terjadinya kiamat itu, tetapi Tuhan Yesus tidak bermaksud demikian dengan pemberitaanNya. Dengan mempertanyakan kapan terjadinya, justru akan terjadi kesesatan yang menimbulkan ramalan2 tentang kapan Tuhan datang untuk kedua kali,  karena Alkitab sudah mengatakan bahwa tidak seorangpun yang tahu, malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri yang tahu. Pembahasan dalam Matius 24 ini adalah mengenai esensi eskatologi, apa yang seharusnya kita persiapkan untuk menuju kepada hari terakhir tersebut.
Matius 24:44 merupakan ayat penghubung yang menyatakan bahwa hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga. Hal ini juga diulang kembali pada ayat 50. Yang harus dipersiapkan/ menjadi panggilan adalah siap sedialah/ siap setiap saat. Pergumulan inilah yang diangkat oleh Tuhan Yesus dalam 3 perumpamaan, salah satunya adalah nats Alkitab kita pada hari ini. 
Bagaimana kita harus siap sedia dalam menghadapi akhir zaman? Pertama-tama, point yang penting yang harus kita sadari adalah bahwa akhir zaman itu pasti terjadi, walaupun kita tidak tahu akan waktunya. Dalam perumpamaan pertama (Matius 24:45-51) Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa hamba yang baik tahu pasti bahwa tuannya pasti akan datang sesuai dengan janjinya, sedangkan hamba yang jahat berpikir sebaliknya bahwa tuannya tidak kunjung datang maka boleh dia anggap tuannya tidak akan datang sehingga dia boleh berbuat apa saja sesuai keinginan hatinya. Kalau kita sangat memperhatikan kepastian eskatologi maka kita akan sangat serius memikirkan bagaimana kalau hal itu terjadi, apa yang harus saya hadapi ketika hal itu terjadi.
Ada 2 unsur yang sedang digandeng oleh Tuhan untuk dibicarakan dalam perumpamaan ini yaitu: 1) eskatologi makro, yaitu: seluruh dunia ini mulai dari hari penciptaan dan berakhir di hari kiamat nanti, disebut juga eskatologi kosmik; 2) eskatologi yang bersifat pribadi, yaitu: hari terakhir (kematian) pribadi demi pribadi. Kalau saat itu terjadi, siap sediakah kita, bukan secara bersama-sama melainkan pribadi demi pribadi? Persiapan apa yang harus kita lakukan?
Pertama-tama kita harus balik kepada status asli sebagai budak/hamba. Yang dibicarakan dalam nats hari ini adalah hubungan antara tuan dan budak/hamba (bahasa asli: dullos). Hamba tidaklah sama dengan pelayan (bahasa Inggris: servant). Pelayan dapat berasal dari budak, tetapi ada juga pelayan yang dibayar. Seorang pelayan berstatus orang bebas, mempunyai hak untuk pindah majikan dan minta bayaran. Seorang budak tidaklah mempunyai hak sama sekali dan tidak dibayar, ia harus tunduk kepada majikannya.
Alkitab menggambarkan mengenai perbudakan baik itu di PL dan PB. Hubungan manusia dengan Tuhan adalah sebagai budak/hamba dengan tuannya. Kita sudah lunas dibayar didepan dengan darah Yesus Kristus, maka adalah hak Tuhan sepenuhnya kalau Dia mau memperlakukan kita apapun. Konsep ini sangat tidak disukai dunia berdosa yang justru menekankan manusia pada haknya, pada kekuatannya, maka jiwa budak pun menjadi hilang dalam kehidupan pelayanan, dalam relasi dengan Tuhan, bahkan manusia berusaha mengatur Tuhan menurut kemauan dirinya.
Konsep perbudakan banyak dilawan karena banyak tuan yang jahat, yang memanipulasi habis budaknya; adanya budak-budak yang melawan tuannya, yang tidak mau taat kepada tuannya. 2 kondisi inilah yang merusak gambaran dari relasi antara tuan dan budaknya. Kalau relasi keduanya berjalan dengan baik maka akan berjalan dengan indah. Budak haruslah rela menyangkal keinginan diri. Tuhan berkata: barangsiapa hendak mengikut Aku, hendaklah ia menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Aku.
Menyangkal diri berarti kita belajar berkata “tidak“ kepada apa yang kita mau, belajar menyangkali ambisi diri, supaya kita bisa berkata “ya“ kepada apa yang Tuhan mau. Orang Kristen sejati akan tahu bahwa hidupnya bukannya untuk dia lagi tetapi untuk Dia yang ada dalamnya. Paulus berkata: aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun asalkan aku dapat mencapai garis akhir, menyelesaikan pelayanan yang ditentukan oleh Tuhan Yesus kepadaku yaitu untuk memberitakan Injil kasih karunia.
Setelah menyangkal diri, Tuhan ingin kita berani menanggung beban yang Tuhan taruh di pundak kita/ memikul salib. Orang yang tidak mau menjalankan kehendak Tuhan, dia tidak akan dapat menjadi hamba yang menjalankan perintah tuannya, juga tidak bisa menjadi orang Kristen yang adalah pengikut Kristus. Istilah “beban“ pada hari ini banyak dirusak oleh orang yaitu menjadi berarti: apa yang kita suka. “Beban“ seharusnya berarti: apa yang tidak kita sukai tetapi yang Tuhan tugaskan. Kalau kita menjalankan kemauan kita dan menemui banyak kesulitan, itu bukanlah beban melainkan resiko. Ketika Tuhan mempercayai kita dengan kepercayaan yang semakin besar maka akan semakin banyak tugas yang ditaruh di pundak kita. Relakah kita mengerjakannya? Kalau kita siap mengerjakan beban kita maka kita akan menjadi hamba yang siap dipekerjakan oleh Tuhan kita.
Kita juga harus belajar mengikut Tuhan Yesus senantiasa karena hanya Dia yang paling sah untuk menjadi Tuan kita. Kalau kita mendalami hidup hamba dan tuan dengan tepat maka kita akan hidup dengan jauh lebih nyaman. Ketika manusia hanya memikirkan dirinya dan tidak pernah memikirkan Tuhan, dia merasa dirinya hebat tetapi kemudian dia akan rusak.
3 karakter yang akan mempersiapkan kita untuk hidup siap sedia menyambut eskatos yaitu:
1) setia
Di tengah dunia saat ini, loyalitas merupakan sesuatu yang perlu dipertanyakan yaitu: aspek yang diloyali/ kepada siapa kita setia : kalau kita setia kepada pihak yang salah (dosa) maka kita akan habis; kesetiaan harus dikaitkan dengan kebenaran. Kalau kita setia kepada Tuhan berarti kita telah menemukan pelabuhan yang tepat. Orang yang belum kembali kepada Tuhan, hidupnya akan bergelombang, semakin kacau. Kalau orang tidak mau memperhambakan diri kepada Kebenaran maka dia menjadi budak ketidakbenaran. Orang tidak bisa tidak menjadi budak karena secara logis ketika manusia bertemu dengan kebenaran dia akan langsung menjadi hamba kebenaran/ berada di bawah kebenaran/ tunduk kepada kebenaran. Kalau kita bisa tunduk kepada Kebenaran maka kita akan dapat mencintai Tuhan dengan segenap hati. Pada hari ini penekanan secara ekstrim adalah pada Tuhan mencintai manusia tetapi tidak disertai tuntutan agar manusia mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan.
2)     Bijaksana/berhikmat
Yang seringkali dikatakan manusia sebagai bijaksana adalah bijaksini karena dia tidak mau mengikuti yang dari sana. Hikmat sejati muncul ketika seseorang terus menggumulkan hubungannya di hadapan Tuhan, bagaimana dia mencintai Tuhan, memikirkan yang terbaik untuk Tuhan, seluruh hidupnya diserahkan untuk memikirkan yang terbaik bagi Tuannya. Hikmat sejati adalah kemampuan akal budi untuk memikirkan setiap aspek lalu mengambil keputusan tepat sebagaimana yang Tuhan inginkan. Seberapa jauh hidup kita cocoak dengan Kebenaran, cocok dengan sifat-sifat Illahi yang adil, suci, benar, mutlak, agung, sesuai dengan kehendak Tuhan, yang menjalankan rencana Kerajaan Surga, dan tidak mengikuti dunia? Orang yang bijaksana adalah orang yang keputusannya selalu cocok dengan yang Tuhan mau. Dunia ini  tidak membutuhkan orang pandai tetapi orang yang bijaksana. Sebagian besar pembuat kejahatan di dunia ini adalah orang pandai.
Gereja bertambah jumlah jemaatnya tidaklah menjamin adanya peningkatan jumlah orang yang beriman beres. Gereja seharusnya bukanlah tempat untuk bermanipulasi melainkan tempat dimana orang mau menjadi budak Tuhan, menjalankan kehendak Tuhan.
Bagaimana cara menjadi bijaksana? Kalau kita mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, mintalah bijaksana kepada Tuhan, maka Tuhan pasti akan memberikannya kepada kita. Langkah kedua adalah selalu bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan/ langkah, apakah hal itu menyenangkan hati Tuhan atau tidak, hasil akhirnya untuk kemuliaan Tuhan atau kemuliaan diri. Problemnya adalah: seringkali kita tahu kalau hal tersebut tidak menyenangkan hati Tuhan tetapi kita terus melangkah. Orang bijaksana adalah orang yang terus berusaha untuk menyenangkan hati Tuhan dengan ketaatan. Kalau hal itu terus kita kerjakan maka jalur yang memimpin kita kepada Kebenaran akan semakin kuat sehingga kita tidak lagi mudah ditipu oleh dunia. Orang akan mengalami ketakutan luar biasa salah satu penyebabnya adalah ketika dia banyak melakukan kesalahan. Hidup yang paling indah adalah ketika kita hidup takut akan Tuhan. Ketika hidup takut akan Tuhan, maka kita akan sangat peduli untuk tidak menyakiti hati Tuhan, tidak melakukan hal yang tidak memperkenan hati Tuhan, mau setia kepada apa yang Tuhan inginkan. Makin kita setia kepada Firman, makin kita tidak takut kepada siapapun.
3)     bertanggung jawab
Orang yang hidup dalam Tuhan mengerjakan sesuatu bukan karena ada urusan dunia tetapi dia mengerjakan sesuatu karena dia tahu bahwa Sang Tuan akan datang dan akan menuntut pertanggung jawaban. Paulus bahkan berkata: hai budak-budak, janganlah kamu bekerja keras karena tuanmu tetapi kerjakanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Di dunia ini banyak pekerjaan yang dilakukan sepertinya dengan bertanggung jawab tetapi dengan motivasi yang tidak benar atau untuk menutupi dosa yang besar. Semuanya yang Tuhan percayakan kepada kita, sudah kita pertanggung jawabkan kemana, kepada Tuhankah, ataukah untuk kepentingan diri kita sendiri?
Maka kita janganlah mengerjakan apa yang kita suka melainkan apa yang Tuhan suka. Kalau kita bisa mengubah konsep pikir kita menjadi seperti diatas maka seluruh hidup kita menjadi bertanggung jawab.
Kalau kita kembali menjadi budak/hamba Tuhan, hidup setia, bijaksana dan bertanggung jawab maka kita akan selalu siap sedia menghadapi kiamat.

Renungkanlah:
  1. Sebagai orang percaya, sudahkah Anda melatih dan menjalankan karakter seorang hamba/budak Kristus yang benar (Mat 24 : 45-51)? Komitmen apa yang Anda mau lakukan/perbaharui di bulan ini? Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut.
  2. Apa yang Anda mau lakukan bagi sesama di tempat/lingkungan Anda bekerja di minggu ini sebagai bagian komitmen Anda dalam menjadi seorang hamba/budak Kristus yang benar. Berdoa dan lakukan komitmen Anda tersebut.



 Epilog:
Demikianlah khotbah mengenai perumpamaan Tuhan Yesus tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat. Semoga pelajaran dari khotbah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

Selamat malam dan Tuhan memberkati




Perumpamaan Sepuluh Gadis

 Perumpamaan Sepuluh Gadis

Shalom, Salam Sejahtera bagi kita semua. Berjumpa kembali bersama saya Anton, pada malam ini kita akan mendengar renungan Firman Tuhan mengenai perumpamaan tentang Sepuluh Gadis dan teksnya diambil dari kitab Matius 25:1-13. Mari kita baca bersama...
Matius 25:1-13 (TB)  "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

http://www.bibleforandroid.com/v/c9471c8f6ac4
 Renungan:
Yesus menceritakan sebuah kisah tentang 10 gadis pengiring mempelai/pengantin yg menurut kebiasaan pernikahan setempat pada waktu itu, menyiapkan diri menyambut kedatangan mempelai laki2. Perumpamaan ini merupakan cerita yg menarik, yg dimaksudkan untuk memberikan pengajaran tentang kesiapan.
Kalimat pendahuluan, "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yg mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki2," perlu diperhatikan. Pertemuan sebenarnya antara pengantin laki2 dan gadis2 pengiring terjadi kemudian pada waktu cerita ini berkembang (Mat 25:10). Lima dari 10 gadis2 itu bodoh, dan lima lagi bijaksana. Gadis2 yg bodoh telah membawa pelita mereka, tetapi tidak membawa persediaan minyak. Pelita jenis apakah ini yg perlu sering diisi minyak lagi supaya tetap menyala? Pelita kecil berisi minyak yg digunakan di rumah tidak cocok untuk prosesi di luar rumah karena angin akan memadamkannya. Pelita-pelita untuk prosesi pernikahan adalah semacam obor. Obor terdiri dari sebuah galah yg panjang dg sumbu yg dibasahi minyak dibagian atasnya. Obor akan menyala dg terang ketika dinyalakan, menerangi prosesi pesta menuju rumah pengantin laki2. Tetapi karena apinya menyala dg terang, isi minyak cepat habis. Dalam waktu 15 menit, tambahan minyak zaitun harus dituangkan pada sumbu untuk menjaga supaya obor tetap menyala.
Lima gadis bodoh telah tiba di rumah pengantin wanita tanpa persiapan apa2, mereka lalai membawa minyak tambahan. Mereka tidak menyadari kelalaian mereka sangat fatal.
Di sisi lain, Mempelai laki2 tertunda kedatangannya. Penundaan mungkin disebabkan oleh tawar menawar tentang mas kawin yg belum selesai. Tradisi kuno ini seringkali disebut di Alkitab. Pembahasan tentang mas kawin dapat menghabiskan waktu dan menimbulkan tawar menawar yg berlarut-larut. Ketika terjadi kesepakatan, barulah prosesi pernikahan dapat diteruskan/dimulai.
Sementara itu gadis2 pengiring pengantin menunggu, mereka mengantuk, dan tertidur. Baik gadis2 yg bodoh maupun yg bijaksana tertidur, hingga waktu berlalu dg cepat. Tetapi tiba2 pada tengah malam terdengar seruan, "Mempelai datang! Songsonglah dia!" pengantin laki2 dan pelayan-pelayannya dg sukacita hampir sampai di rumah pengantin wanita. Para pengiring yg berada di dalam segera terbangun, bangkit, membenahi penampilan mereka, dan membereskan pelita2 mereka. Kesepuluh gadis memiliki obor yg menyala dg terang, tetapi lima diantara mereka menyadari bahwa tanpa persediaan minyak, obor mereka akan segera padam bahkan sebelum prosesi dimulai. Mereka mencoba memberitahukan masalah mereka kepada gadis2 yg lain. Mereka berkata' "Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam." Namun gadis2 bijaksana dg sopan menolak membagi minyak, karena tidak akan cukup untuk 10 pelita. Mereka dinasihati untuk pergi ke penjual minyak untuk membeli minyak tambahan. Kelima gadis yg menghabiskan waktu mereka untuk menunggu dan tidur, sekarang harus cepat2 pergi ke penjual minyak dan membeli minyak tambahan. Sementara mereka pergi' pengantin laki2 datang dan prosesi dimulai. Semua pergi ke rumah pengantin laki-laki dan ikut di dalam pesta. Mereka menutup pintu masuk ke ruang pesta di rumah mempelai, dan setiap orang yg bukan merupakan bagian dari prosesi tidak diizinkan masuk. Ini merupakan prosedur yg biasa di antara orang kaya dalam kebudayaan waktu itu.
Perumpamaan ini berakhir dg adegan lima gadis yg menjumpai pintu telah tertutup, merea berteriak, "Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!" Teriakan mereka yg terus menerus itu akhirnya mendorong pengantin laki-laki untuk pergi ke pintu dan memberitahu gadis-gadis itu bahwa dia tidak ingin berurusan dg mereka. Mereka sudah terlambat dan tidak dapat mengikuti perjamuan kawin.
Pelajarannya:
Kesimpulan yg diberikan oleh Yesus untuk perumpamaan ini sederhana dan tepat: "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." Dengan jelas Dia menunjuk kepada Diri-Nya sendiri dan di dalam perumpamaan ini Dia mengajarkan tentang kedatangan-Nya kembali.
Pesan utama dari perumpamaan ini ditujukan kepada pengikut-pengikut Yesus. Gadis-gadis yg bijaksana ialah mereka yg terus menerus mencoba melakukan kehendak Allah. Tetapi gadis-gadis yg bodoh adalah mereka yg tidak memperhatikan kepada kedatangan Tuhan yg tiba-tiba.
Kesimpulan:
Saudara pendengar yang dikasihi Tuhan, kita telah sampai kepada kesimpulan dari pelajaran pada malam ini.Tuhan telah memberi kesempatan kepada kita untuk memilih dg bebas. Pilihan itulah yg akan menentukan kelak di mana kita berada dalam kekekalan. Karena itu sementara pintu anugrah Tuhan masih terbuka, baiklah kita masuk ke dalamnya. Kelak pintu itu akan tertutup, dan pada waktu itu, meskipun kita meratap dan meraung, meminta agar pintu dibukakan, tidak ada seorang pun yg akan membka pintu itu bagi kita, malahan Tuhan berkata: "Sesungguhnya aku tiak mengenal kamu"  Sebab itu, hendaklah dari sekarang kita bersiap-siap, berjaga-jaga dan senantiasa sadar. Pergunakanlah kesempatan yg Tuhan telah berikan bagi kita. Semoga firman Tuhan pada malam ini memberi manfaat dan dorongan bagi kita semua.

Mari kita berdoa, Tuhan, Allah bapa kami di dalam sorga, terima kasih atas firman Tuhan yg sudah kami dengarkan bersama. Kami sudah belajar dari perumpamaan mengenai sepuluh gadis yg menekankan pentingnya kesiapan dan tetap berjaga-jaga agar kapan pun kami siap menyambut akan kedatangan Tuhan. Biarlah firmanMu itu senantiasa menjadi pedoman dalam kehidupan kami setiap harinya. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan mengucapkan syukur kepada-Mu. Amin.

Perumpamaan Domba Yang Hilang

Perumpamaan Domba Yang Hilang

 Shalom, Salam Sejahtera bagi kita semua. Berjumpa kembali bersama saya Anton, pada saat ini kita akan mendengar renungan Firman Tuhan mengenai perumpamaan tentang domba yg hilang dan teksnya diambil dari kitab Matius 18:12-14. Mari kita baca bersama...
 Matius 18:12-14 (TB)  "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang."
Renungan:
Dalam pengajaranNya seringkali Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan, dan di teks yg telah kita baca tadi Yesus mengajar dengan perumpamaan domba yang hilang. Perumpamaan ini menceritakan tentang seorang gembala domba yang memiliki seratus ekor domba. Pada suatu hari salah seekor dombanya hilang, dan ia meninggalkan domba yang lainnya di pegunungan dan mencari seekor yang tersesat. Diceritakan bahwa ketika gembala tersebut menemukan domba yang hilang, maka kegembiraannya atas seekor domba itu lebih dari 99 ekor domba yang tidak sesat.
Domba merupakan lambang yang sangat sering dijumpai di dalam Alkitab sejak zaman sebelum Daud, gembala domba yang menjadi raja Israel (lihat Mazmur 23). Domba adalah binatang yang sangat bodoh yang tidak mampu mencari makan/minum sendiri tanpa tuntunan gembalanya, apalagi melindungi dirinya. Mengapa domba itu bisa tersesat? Apakah mungkin karena ia keasyikan mencari makanan sehingga terpisah dari kawanan domba lain? Atau karena diganggu hewan buas dan lari karena ketakutan? Kemungkinan juga karena domba itu tersesat karena terperosok jatuh ke dalam jurang. Domba yang sesat/hilang menggambarkan manusia yang berdosa/kehilangan kemuliaan Allah ( Roma 3:23 karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah), Yesaya 53:6 (TB)  Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Manusia cendrung mengambil jalan sendiri2 dan mudah terhanyut oleh hal2 duniawi yang mana hal tersebut membuat manusia semakin menjauh dari Tuhan. Hal2 duniawi tersebut diantaranya: keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Dunia begitu mudah menarik kita untuk menjadi pengikutnya, tanpa kita berpegang pada firman Tuhan, maka kita dapat saja menjadi terhilang.
Gembala domba, di sisi lain, adalah orang yang mencukupi kebutuhan domba-dombanya, melindungi mereka dari serangan binatang buas, mengobati mereka yang terluka, dan menuntun mereka ke mana-mana.
Apa yg dilakukan oleh gembala domba? Meninggalkan domba yg 99 ekor di pegunungan dan pergi mencari 1 domba yg tersesat. Gembala tersebut berani mengambil resiko meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari 1 domba, bukan berarti 99 domba ditinggalkan tanpa perlindungan. Mungkin saja jika kita memandang dalam sudut bisnis, lebih baik hilang 1 dari pada 99, lebih baik rugi sedikit dari pada rugi banyak. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi gembala di sini, oleh karena kasihnya, ia terus mencari 1 domba yg tersesat sampai ia menemukannya. Gembala itu tidak berhenti sampai menemukan domba yg tersesat tersebut. Ini mengindikasikan bahwa gembala itu tidak menyerah/putus asa dalam mencari dan menemukan. Ketika gembala menemukannya, ia sangat bersukacita.
Saudara pendengar yg sama dikasihi Tuhan...
Yesus adalah sang Gembala Baik. Ia mempunyai komitmen untuk mencari domba asuhan-Nya yang hilang, apa dan berapa pun biayanya! Dia akan pergi ke mana saja di atas muka bumi ini untuk menemukan kembali siapa saja yang hilang. Satu jiwa sangat berharga di mata Tuhan. Oleh karena kasih Allah kepada manusia, Ia mengutus Anak-Nya yg tunggal, yaitu Yesus Kristus. Di dalam  Yohanes 3:16 (TB)  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Tuhan sangat menginginkan agar manusia tidak binasa. 2 Petrus 3:9 (TB)  Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.
Aplikasi:
1. Bagaimana dg kita saat ini, apakah kita memiliki empati yg sama dg gembala domba? Meluangkan waktu dan berusaha semaksimal mungkin sehingga orang2 yg tersesat dapat kembali ke jalan yg benar. Kita harus peduli terhadap jiwa-jiwa yg sesat dengan pergi mencari mereka.
2. Kita diajarkan untuk rela berkorban, mengorbankan waktu/tenaga/pikiran untuk mencari jiwa-jiwa yg tersesat.
3. Sama seperti gembala, kita tidak boleh putus asa sampai domba yang dicari dapat ditemukan. Demikian juga halnya mencari jiwa2 yg tersesat, jangan berputus asa sampai kita dapat menemukan mereka.

Kesimpulan:
Saudara pendengar yang dikasihi Tuhan, kita telah sampai kepada kesimpulan dari pelajaran pada malam ini. Kita telah mendengar firman Tuhan mengenai perumpamaan tentang domba yg hilang. Semoga firman Tuhan pada malam ini memberi manfaat dan dorongan bagi kita semua.

Mari kita berdoa, Tuhan, Allah bapa kami di dalam sorga, terima kasih atas firman Tuhan yg sudah kami dengarkan bersama. Ajarlah kami untuk lebih peduli satu sama lain agar tidak satu pun dari kami dapat tersesat. Biarlah firmanMu menjadi pedoman dalam kehidupan kami setiap harinya. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan mengucapkan syukur kepada-Mu. Amin.

Hidup Kudus Di Hadapan Tuhan


 Hidup Kudus Di Hadapan Tuhan


Doa pembuka: Ya Tuhan, Allah Bapa kami di dalam kerajaan Sorga, kami bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan bagi kami untuk mendengarkan firman-Mu, pada saat ini kami telah mempersiapkan hati kami untuk mendengarkan firman Tuhan. Di dalam nama Yesus, kami telah berdoa. Amien.

Hidup di dalam kekudusan adalah merupakan tujuan hidup orang percaya. Hidup kudus juga merupakan kerinduan hidup bagi setiap orang yang tekun beribadah kepada. Hidup kudus adalah merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh Orang Percaya. Sebagai orang percaya, kita tidak bisa mewujudkan apa yang dikatakan di dalam firman Tuhan (Matius 5:13-16) dalam kehidupan kita jika kita tidak hidup kudus di hadapanTuhan.
Agar seseorang dapat hidup dalam kekudusan, maka ia harus terlebih dahulu memahami apa arti dari hidup kudus tersebut. Hidup kudus adalah hidup tidak tercemar oleh keduniawian yang mana ia senantiasa hidup berdasarkan kehendak Allah.
Lantas, apa yang harus kita lakukan agar dapat hidup dalam kekudusan di hadapan Tuhan?
I.             Kita Harus Menyadari Mengapa Kita Harus Hidup kudus.
Allah telah menciptakan manusia (Kejadian 1:26-27) dan menyelamatkan manusia dari dosa (Yohanes 3:16) mengharuskan manusia itu untuk hidup dalam kekudusan sebagai mana Allah itu kudus dan Firman-Nya juga kudus, 1 Petrus 1:16. Orang yang hidup kudus adalah orang-orang yang telah diselamatkan oleh darah Krsitus menjadi umat yang kudus imamat yang rajani, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Petrus 2:9) harus tetap mempertahankan kehidupan yang suci itu agar tetap terpelihara persekutuan dengan Allah yang menebus kita melalui darah Anak-Nya, yakni Yesus Kristus (1 Yohanes 1:6-10).
Persekutuan kita dengan Allah akan diukur oleh kehidupann kita yang kudus yaitu jika kita melakukan Firman Tuhan. Tidak seorang pun dapat hidup dalam kekudusan jika tidak menuruti apa yang Tuhan firmankan (Kolose 3:17; Yakobus 1:22). Dengan kita menyadari kehadiran kita di dunia ini, maka akan membantu kita untuk berfokus kepada tujuan kita, yakni hidup dalam kekudusan.
II.           Kita Harus Melakukan Apa Yang Dikatakan Dalam Firman Tuhan.
Sebagaimana yang telah kita bicarakan pada poin pertama bahwa kita harus hidup kudus, kita tidak akap pernah hidup kudus jika kita tidak memiliki pengetahuan terhadap firman Tuhan (Hosea 4:6). Kita tidak akan mengetahui kehendak Allah dalam kehidupan kita tanpa kita belajar akan firman Tuhan tersebut (2 Timotius 2:15). Kita tidak dapat hidup kudus jika tidak mempraktekkan bagaimana harus hidup dalam kekudusan (Yohanes 1:22; Yakobus 2:26). Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh  Ezra (Ezra 7:10). Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.
Seseorang dapat hidup kudus jika ia telah disucikan dan hidup dalam Firman Tuhan (Yohanes 17:17). Firman Tuhan adalah sumber untuk mendapatkan hidup kudus. Untuk itu sangat penting bagi kita membaca Firman Tuhan dan melakukannya dalam segala aspek kehidupan kita, baik dalam hal pekerjaan, kehidupan pribadi, atau pun dalam keluarga.
Berikut ini merupakan contoh dari kehidupan yang tercatat di dalam Alkitab:
1.       Kejadian 39:1-23. Kita dapat melihat kehidupan Yusuf yang menjunjung tinggi hidup dalam kekudusan dengan menahan diri dan menolak melakukan kecemaran dengan istri Potifar ketika di Mesir.
2.       Daniel 1:8. Daniel tidak mau memakan makanan raja hanya untuk tetap mempertahankan kehidupan yang kudus di hadapan Tuhan.
3.       Kejadian 6:6-11. Nuh hidup benar di hadapan Tuhan dan tidak terpengaruh kehidupan buruk di sekitarnya. Ia berusaha hidup di dalam kekudusan.
4.       1 Raja 17-19. Nabi Elia tetap berdiri bagi kebenaran dan hidup kudus, sekali pun raja Ahab dan Isebel ingin membunuhnya.
Sebenarnya ada banyak sekali contoh di dalam Alkitab, bagaimana hamba-hamba Tuhan berusaha untuk berdiri bagi kebenaran dan terus berusaha untuk hidup dalam kekudusan di hadapan Tuhan.
III.         Kita Harus Mempertahankan kehidupan Yang Kudus Yang Terfokus Kepada Kehidupan Kristus.
Tidak sedikit orang yang gagal untuk mempertahankan hidup kudus karena tidak terfokus kepada kehidupan Kristus. Mereka lebih senang membandingkan diri mereka dengan sesamanya dan menganggap lebih baik dari pada yang lain. Padahal kita harus meneladani kehidupan Kristus, yang mana Kristus hidup dalam kekudusan. Paulus di dalam Galatia 2:20 mengatakan, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yag telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Kristus adalah teladan yang harus kita tiru dalam kehidupan kita dalam hal berpikir, berkata dan berprilaku.

Kesimpulan:
Kita telah belajar bagaimana hidup dalam kekudusan.
1.       Kita harus menyadari mengapa kita harus hidup kudus.
2.       Kita harus melakukan apa yang dikatakan dalam Firman Tuhan.
3.       Kita harus mempertahankan hidup dalam kekudusan yang terfokus kepada kehidupan Kristus.
Semoga Firman Tuhan pada malam ini bermanfaat bagi kita semua.
Mari kita berdoa, Ya Tuhan Allah Bapa Kami di dalam Kerajaan Sorga. Terima kasih atas firman Tuhan yang baru saja kami dengarkan. Bantu kami agar kami dapat hidup di dalam kekudusan agar tetap berkenan di hadapan-Mu. Inilah doa kami yang kami pinta melalui Putra-Mu Tuhan Yesus Kristus. Amin.


Saudara pendengar yang dikasihi Tuhan. Demikian firman Tuhan yang sudah kita dengarkan. Tuhan memberkati!

Senin, 11 Juli 2016

Pentingnya Belajar

Pentingnya Kebiasaan Belajar Bagi Penginjil

Belajar sebagai proses investasi sumber daya manusia dan modal sosial merupakan proses yang tidak mengenal akhir. Seseorang harus terus berlangsung dan bergerak dinamis, sejalan dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, gereja dan kemajuan zaman yang serba instan.
Penginjil adalah seorang yang memiliki tanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada semua lapisan masyarakat, baik masyarakat yang berpendidikan tinggi (kaum intelektual) maupun yang berpendidikan rendah (awam), baik masyarakat pegawai maupun masyarakat petani, 2 Timotius 4:2: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”
Sebagai penginjil di dalam jemaat yang memberitakan firman di hadapan berbagai lapisan masyarakat harus memiliki pengetahuan yang luas, dan untuk memperoleh pengetahuan yang luas tidak ada cara lain selain banyak belajar dan banyak membaca. Itulah sebabnya setiap penginjil diharuskan untuk memiliki perpustakaan sendiri karena penginjil selain pemberita injil juga berfungsi sebagai narasumber bagi anggota jemaat.
Di dalam subyek penginjil dan pekerjaannya kita telah mempelajari bahwa belajar adalah merupakan bagian dari kehidupan seorang pengijil, sehingga jemaat menyediakan kantor untuk seorang penginjil agar penginjil tersebut dapat konsentrasi untuk belajar. Kita tahu ada banyak penginjil yang selalu mempergunakan waktu yang mereka miliki untuk belajar, tetapi tidak sedikit juga penginjil di Indonesia tidak menggunakan waktunya untuk belajar, sehingga penginjil tersebut kurang efektif dalam pekerjaannya sebagai penginjil, bahkan masih ada beberapa penginjil di Indonesia yang tidak memiliki alat-alat belajar seprti Kamus, konkordansi, buku tafsir Alkitab. Nah, kalau seorang penginjil tidak memiliki alat-alat di atas, bagaimana mungkin ia dapat mempersiapkan khotbah dan pelajarannya dengan baik utnuk diajarkan kepada Jemaat? Hosea 4:6: “UmatKu binasa karena kurang pengetahuan; karena engakulah yang menolak pengetahuan itu maka Aku menolak engkau menjadi imamKu: dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.”
Seorang penginjil harus membiasakan diri untuk belajar, karena belajar adalah merupakan bagian dari kehidupannya, Amsal 4:13 “Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.”
Untuk membiasakan diri dalam belajar dapat kita lakukan sebagai berikut: Mulailah membiasakan diri untuk belajar pada waktu yang sama dan pada tempat yang sama setiap hari dan lakukanlah itu selama 21 hari berturut-turut, maka kita akan dapat membiasakan diri untuk belajar setiap hari. Cobalah dan saudar akan meraksakan sendiri bertapa mujarabnya resep ini.
Salah satu kita yang harus dilakukan oleh seorang penginjil agar handal ialah terus belajar. Jadi belajar adalah kunci keberhasilah atau kesuksesan bagi semua orang tanpa terkecuali, baik bagi seorang penginjil maupun bagi seorang pemimpin di mana pun. Pengetahuan tidak akan datang seperti angin atau ombak begitu saja tetapi melalui proses belajar. Keberhasilan tidak akan pernah tercapai tanpa didasari kebiasaan belajar yang baik.
Agar jemaat Tuhan di Indonesia ini dapat bertumbuh dengan baik, kita harus memiliki SDM yang terlatih untuk mengembangkan diri dalam belajar. Semua penginji adalah motor (penggerak) bagi jemaat untuk bertumbuh dan pertumbuhan itu dapat tercapai kalau para penginjil memiliki pengetahuan yang didapat dengan belajar.
“Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karna dialah hidupmu.” (Amsal 4:13)

Sumber: Sabda Hidup hal 6 Edisi Juli 2002, penulis Bonar Sagala

TeladanBagi Orang Percaya

Jadilah Teladan Bagi Orang Percaya

“Jadilah teladan bagi orang percaya”. Kata-kata tersebut disampaikan oleh Rasul Paulus sebagai nasihat dari seorang “ayah” dalam Injil kepada seorang “anak” dalam Injil Timotius. Sebagai seorang penginjil muda banyak sekali tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Timotius. Paulus tidak menginginkan pekerjaan seorang Timotius diremehkan atau direndahkan karena hal itu tidak akan menolong efektivitas pekerjaannya.
“Janganlah seorang pun menganggap engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12).
Timotius harus menjadi contoh dalam lima hal: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian. Daftar ini menyentuh semua aspek pekerjaan seorang Penginjil. Daftar ini juga berisi tanggung jawab di semua aspek kehidupan.
Dalam perkataan (En logo, Greek). Kata ini menyangkut pusat kehidupan seorang penginjil. Dia harus secara konstan berbicara baik secara umum maupun pribadi. Pada tema “hidup yang kekal” dan pada hal-hal yang bersifat kebutuhan pribadi orang-orang. Apa yang dikatakannya dan bagaimana mengatakannya akan menarik respon dari umat manusia.
Dalam tingkah laku. Tingkah laku kita harus sejalan dengan pengajaran kita. Mengapa orang-orang mendengarkan Yesus, sebab Yesus mengerjakan dan mengajar, Kisah 1:1.
Dalam kasihmu. Ini adalah api emosional yang kita butuhkan untuk hidup yang berkenan di hadapan Allahdan sesama manusia. Kasih akan mendorong tingkah laku kita agar kita bersikap tidak penuh dengan kepura-puraan dan agar kita menjadi contoh yang patut ditiru, 1 Korintus 13:1-8.
Dalam kesetiaan (in faith, English). Iman membuat kita dapat terus kuat, kuat dalam perkataan, dalam hidup dan dalam kasih. Iman akan menyanggupkan seseorang untuk melihat dengan penuh keyakinan akan kemenangan akhir di tengah-tengah badai pencobaan, Yakobus 1:2,4; Ibrani 11:9-19.
Dalam kesucian, di sini kita temukan rangkuman dari semua karakteristik lainnya. Jika perkataan, kehidupan, kasih, atau iman tidak lagi murni, maka karakternya menjadi kabur dan teladannya menjadi hilang. Ayat-ayat Alkitab banyak berbicara mengenai kesucian (1 Petrus 1:22; 1 Timotius 1:5).
Paulus menantang Timotius untuk menjadi “teladan” dalam semua hal tersebut di atas. Kata “teladan” atau contoh dalam bahasa Grika adalah “tupos” yang artinya copy, pola, bentuk, image, model, dalam kehidupan moral dan contoh. Jika seorang penginjil dapat memenuhi tantangan ini, dia dapat bekerja dengan efektif dan khotbahnya akan didengar dan dipraktekkan.


Sumber: Sabda Hidup, hal 3, oleh Alex Daniel.