Indonesia Church of Christ

Analityc

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 12 Juli 2016

Hidup Kudus Di Hadapan Tuhan


 Hidup Kudus Di Hadapan Tuhan


Doa pembuka: Ya Tuhan, Allah Bapa kami di dalam kerajaan Sorga, kami bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan bagi kami untuk mendengarkan firman-Mu, pada saat ini kami telah mempersiapkan hati kami untuk mendengarkan firman Tuhan. Di dalam nama Yesus, kami telah berdoa. Amien.

Hidup di dalam kekudusan adalah merupakan tujuan hidup orang percaya. Hidup kudus juga merupakan kerinduan hidup bagi setiap orang yang tekun beribadah kepada. Hidup kudus adalah merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh Orang Percaya. Sebagai orang percaya, kita tidak bisa mewujudkan apa yang dikatakan di dalam firman Tuhan (Matius 5:13-16) dalam kehidupan kita jika kita tidak hidup kudus di hadapanTuhan.
Agar seseorang dapat hidup dalam kekudusan, maka ia harus terlebih dahulu memahami apa arti dari hidup kudus tersebut. Hidup kudus adalah hidup tidak tercemar oleh keduniawian yang mana ia senantiasa hidup berdasarkan kehendak Allah.
Lantas, apa yang harus kita lakukan agar dapat hidup dalam kekudusan di hadapan Tuhan?
I.             Kita Harus Menyadari Mengapa Kita Harus Hidup kudus.
Allah telah menciptakan manusia (Kejadian 1:26-27) dan menyelamatkan manusia dari dosa (Yohanes 3:16) mengharuskan manusia itu untuk hidup dalam kekudusan sebagai mana Allah itu kudus dan Firman-Nya juga kudus, 1 Petrus 1:16. Orang yang hidup kudus adalah orang-orang yang telah diselamatkan oleh darah Krsitus menjadi umat yang kudus imamat yang rajani, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Petrus 2:9) harus tetap mempertahankan kehidupan yang suci itu agar tetap terpelihara persekutuan dengan Allah yang menebus kita melalui darah Anak-Nya, yakni Yesus Kristus (1 Yohanes 1:6-10).
Persekutuan kita dengan Allah akan diukur oleh kehidupann kita yang kudus yaitu jika kita melakukan Firman Tuhan. Tidak seorang pun dapat hidup dalam kekudusan jika tidak menuruti apa yang Tuhan firmankan (Kolose 3:17; Yakobus 1:22). Dengan kita menyadari kehadiran kita di dunia ini, maka akan membantu kita untuk berfokus kepada tujuan kita, yakni hidup dalam kekudusan.
II.           Kita Harus Melakukan Apa Yang Dikatakan Dalam Firman Tuhan.
Sebagaimana yang telah kita bicarakan pada poin pertama bahwa kita harus hidup kudus, kita tidak akap pernah hidup kudus jika kita tidak memiliki pengetahuan terhadap firman Tuhan (Hosea 4:6). Kita tidak akan mengetahui kehendak Allah dalam kehidupan kita tanpa kita belajar akan firman Tuhan tersebut (2 Timotius 2:15). Kita tidak dapat hidup kudus jika tidak mempraktekkan bagaimana harus hidup dalam kekudusan (Yohanes 1:22; Yakobus 2:26). Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh  Ezra (Ezra 7:10). Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.
Seseorang dapat hidup kudus jika ia telah disucikan dan hidup dalam Firman Tuhan (Yohanes 17:17). Firman Tuhan adalah sumber untuk mendapatkan hidup kudus. Untuk itu sangat penting bagi kita membaca Firman Tuhan dan melakukannya dalam segala aspek kehidupan kita, baik dalam hal pekerjaan, kehidupan pribadi, atau pun dalam keluarga.
Berikut ini merupakan contoh dari kehidupan yang tercatat di dalam Alkitab:
1.       Kejadian 39:1-23. Kita dapat melihat kehidupan Yusuf yang menjunjung tinggi hidup dalam kekudusan dengan menahan diri dan menolak melakukan kecemaran dengan istri Potifar ketika di Mesir.
2.       Daniel 1:8. Daniel tidak mau memakan makanan raja hanya untuk tetap mempertahankan kehidupan yang kudus di hadapan Tuhan.
3.       Kejadian 6:6-11. Nuh hidup benar di hadapan Tuhan dan tidak terpengaruh kehidupan buruk di sekitarnya. Ia berusaha hidup di dalam kekudusan.
4.       1 Raja 17-19. Nabi Elia tetap berdiri bagi kebenaran dan hidup kudus, sekali pun raja Ahab dan Isebel ingin membunuhnya.
Sebenarnya ada banyak sekali contoh di dalam Alkitab, bagaimana hamba-hamba Tuhan berusaha untuk berdiri bagi kebenaran dan terus berusaha untuk hidup dalam kekudusan di hadapan Tuhan.
III.         Kita Harus Mempertahankan kehidupan Yang Kudus Yang Terfokus Kepada Kehidupan Kristus.
Tidak sedikit orang yang gagal untuk mempertahankan hidup kudus karena tidak terfokus kepada kehidupan Kristus. Mereka lebih senang membandingkan diri mereka dengan sesamanya dan menganggap lebih baik dari pada yang lain. Padahal kita harus meneladani kehidupan Kristus, yang mana Kristus hidup dalam kekudusan. Paulus di dalam Galatia 2:20 mengatakan, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yag telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Kristus adalah teladan yang harus kita tiru dalam kehidupan kita dalam hal berpikir, berkata dan berprilaku.

Kesimpulan:
Kita telah belajar bagaimana hidup dalam kekudusan.
1.       Kita harus menyadari mengapa kita harus hidup kudus.
2.       Kita harus melakukan apa yang dikatakan dalam Firman Tuhan.
3.       Kita harus mempertahankan hidup dalam kekudusan yang terfokus kepada kehidupan Kristus.
Semoga Firman Tuhan pada malam ini bermanfaat bagi kita semua.
Mari kita berdoa, Ya Tuhan Allah Bapa Kami di dalam Kerajaan Sorga. Terima kasih atas firman Tuhan yang baru saja kami dengarkan. Bantu kami agar kami dapat hidup di dalam kekudusan agar tetap berkenan di hadapan-Mu. Inilah doa kami yang kami pinta melalui Putra-Mu Tuhan Yesus Kristus. Amin.


Saudara pendengar yang dikasihi Tuhan. Demikian firman Tuhan yang sudah kita dengarkan. Tuhan memberkati!

Senin, 11 Juli 2016

Pentingnya Belajar

Pentingnya Kebiasaan Belajar Bagi Penginjil

Belajar sebagai proses investasi sumber daya manusia dan modal sosial merupakan proses yang tidak mengenal akhir. Seseorang harus terus berlangsung dan bergerak dinamis, sejalan dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, gereja dan kemajuan zaman yang serba instan.
Penginjil adalah seorang yang memiliki tanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada semua lapisan masyarakat, baik masyarakat yang berpendidikan tinggi (kaum intelektual) maupun yang berpendidikan rendah (awam), baik masyarakat pegawai maupun masyarakat petani, 2 Timotius 4:2: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”
Sebagai penginjil di dalam jemaat yang memberitakan firman di hadapan berbagai lapisan masyarakat harus memiliki pengetahuan yang luas, dan untuk memperoleh pengetahuan yang luas tidak ada cara lain selain banyak belajar dan banyak membaca. Itulah sebabnya setiap penginjil diharuskan untuk memiliki perpustakaan sendiri karena penginjil selain pemberita injil juga berfungsi sebagai narasumber bagi anggota jemaat.
Di dalam subyek penginjil dan pekerjaannya kita telah mempelajari bahwa belajar adalah merupakan bagian dari kehidupan seorang pengijil, sehingga jemaat menyediakan kantor untuk seorang penginjil agar penginjil tersebut dapat konsentrasi untuk belajar. Kita tahu ada banyak penginjil yang selalu mempergunakan waktu yang mereka miliki untuk belajar, tetapi tidak sedikit juga penginjil di Indonesia tidak menggunakan waktunya untuk belajar, sehingga penginjil tersebut kurang efektif dalam pekerjaannya sebagai penginjil, bahkan masih ada beberapa penginjil di Indonesia yang tidak memiliki alat-alat belajar seprti Kamus, konkordansi, buku tafsir Alkitab. Nah, kalau seorang penginjil tidak memiliki alat-alat di atas, bagaimana mungkin ia dapat mempersiapkan khotbah dan pelajarannya dengan baik utnuk diajarkan kepada Jemaat? Hosea 4:6: “UmatKu binasa karena kurang pengetahuan; karena engakulah yang menolak pengetahuan itu maka Aku menolak engkau menjadi imamKu: dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.”
Seorang penginjil harus membiasakan diri untuk belajar, karena belajar adalah merupakan bagian dari kehidupannya, Amsal 4:13 “Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.”
Untuk membiasakan diri dalam belajar dapat kita lakukan sebagai berikut: Mulailah membiasakan diri untuk belajar pada waktu yang sama dan pada tempat yang sama setiap hari dan lakukanlah itu selama 21 hari berturut-turut, maka kita akan dapat membiasakan diri untuk belajar setiap hari. Cobalah dan saudar akan meraksakan sendiri bertapa mujarabnya resep ini.
Salah satu kita yang harus dilakukan oleh seorang penginjil agar handal ialah terus belajar. Jadi belajar adalah kunci keberhasilah atau kesuksesan bagi semua orang tanpa terkecuali, baik bagi seorang penginjil maupun bagi seorang pemimpin di mana pun. Pengetahuan tidak akan datang seperti angin atau ombak begitu saja tetapi melalui proses belajar. Keberhasilan tidak akan pernah tercapai tanpa didasari kebiasaan belajar yang baik.
Agar jemaat Tuhan di Indonesia ini dapat bertumbuh dengan baik, kita harus memiliki SDM yang terlatih untuk mengembangkan diri dalam belajar. Semua penginji adalah motor (penggerak) bagi jemaat untuk bertumbuh dan pertumbuhan itu dapat tercapai kalau para penginjil memiliki pengetahuan yang didapat dengan belajar.
“Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karna dialah hidupmu.” (Amsal 4:13)

Sumber: Sabda Hidup hal 6 Edisi Juli 2002, penulis Bonar Sagala

TeladanBagi Orang Percaya

Jadilah Teladan Bagi Orang Percaya

“Jadilah teladan bagi orang percaya”. Kata-kata tersebut disampaikan oleh Rasul Paulus sebagai nasihat dari seorang “ayah” dalam Injil kepada seorang “anak” dalam Injil Timotius. Sebagai seorang penginjil muda banyak sekali tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Timotius. Paulus tidak menginginkan pekerjaan seorang Timotius diremehkan atau direndahkan karena hal itu tidak akan menolong efektivitas pekerjaannya.
“Janganlah seorang pun menganggap engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12).
Timotius harus menjadi contoh dalam lima hal: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian. Daftar ini menyentuh semua aspek pekerjaan seorang Penginjil. Daftar ini juga berisi tanggung jawab di semua aspek kehidupan.
Dalam perkataan (En logo, Greek). Kata ini menyangkut pusat kehidupan seorang penginjil. Dia harus secara konstan berbicara baik secara umum maupun pribadi. Pada tema “hidup yang kekal” dan pada hal-hal yang bersifat kebutuhan pribadi orang-orang. Apa yang dikatakannya dan bagaimana mengatakannya akan menarik respon dari umat manusia.
Dalam tingkah laku. Tingkah laku kita harus sejalan dengan pengajaran kita. Mengapa orang-orang mendengarkan Yesus, sebab Yesus mengerjakan dan mengajar, Kisah 1:1.
Dalam kasihmu. Ini adalah api emosional yang kita butuhkan untuk hidup yang berkenan di hadapan Allahdan sesama manusia. Kasih akan mendorong tingkah laku kita agar kita bersikap tidak penuh dengan kepura-puraan dan agar kita menjadi contoh yang patut ditiru, 1 Korintus 13:1-8.
Dalam kesetiaan (in faith, English). Iman membuat kita dapat terus kuat, kuat dalam perkataan, dalam hidup dan dalam kasih. Iman akan menyanggupkan seseorang untuk melihat dengan penuh keyakinan akan kemenangan akhir di tengah-tengah badai pencobaan, Yakobus 1:2,4; Ibrani 11:9-19.
Dalam kesucian, di sini kita temukan rangkuman dari semua karakteristik lainnya. Jika perkataan, kehidupan, kasih, atau iman tidak lagi murni, maka karakternya menjadi kabur dan teladannya menjadi hilang. Ayat-ayat Alkitab banyak berbicara mengenai kesucian (1 Petrus 1:22; 1 Timotius 1:5).
Paulus menantang Timotius untuk menjadi “teladan” dalam semua hal tersebut di atas. Kata “teladan” atau contoh dalam bahasa Grika adalah “tupos” yang artinya copy, pola, bentuk, image, model, dalam kehidupan moral dan contoh. Jika seorang penginjil dapat memenuhi tantangan ini, dia dapat bekerja dengan efektif dan khotbahnya akan didengar dan dipraktekkan.


Sumber: Sabda Hidup, hal 3, oleh Alex Daniel.

Kamis, 30 Juni 2016

Sikap Hidup Seorang Pemimpin Kristen

Sikap Hidup Seorang Pemimpin Kristen

Pemimpin itu adalah seseorang yang mempunyai pengikut-pengikut dalam situasi tertentu. Masing-masing kita berkapasitas sebagai pemimpin atau yang dipimpin. Ada beberapa faktor yang terlibat sehingga seseorang itu mempunyai pengikut, namun saya akan membicarakan satu faktor saja dan faktor yang dimaksud adalah “Sikap Hidup Seorang Pemimpin.” Yang dimaksud dengan sikap hidup adalah prilaku hidup, gerak-gerik hidup atau tindakan-tindakan dalam kehidupan yang berdasarkan pada pendirian, pendapat dan keyakinan. Seorang pemimpin yang mempertahankan sikap hidup positif akan menunjang keberhasilan kepemimpinannya. Ada beberapa jenis sikap hidup seorang pemimpin yang perlu didemonstrasikan, antara lain:
Takut akan Allah.
Takut akan Allah merupakan sikap hidup rangking pertama dalam kehidupan seorang pemimpin. Takut akan Allah berarti pemimpin tersebut akan selalu berusaha untuk menjadikan Firman Allah sebagai cermin di dalam hidupnya sehingga dia akan berusaha jujur di dalam segala hal, tidak memandang rupa di dalam mendengarkan pendapat atau di dalam menerima pendapat serta tidak memandang rupa di dalam menyatakan kesalahan atau memberi pujian.
Sidang Jemaat terdiri dari beberapa anggota dan masing-masing anggota berbeda di dalam suku dan kebudayaan, pendidikan, status sosial dan banyak hal lain. Sehubungan dengan perbedaan-perbedaan ini tentu akan muncul beberapa hal yang berbeda pula misalnya: Pendapat, inteligensi, performa dan lain-lain. Jikalau pemimpin itu memimpin berdasarkan salah satu kategori di atas, maka akan timbullah masalah yang kompleks, sebaliknya jikalau pemimpin itu takut akan Allah dan Firman Allah sebagai landasan dalam kepemimpinannya, masalah mungkin muncul juga tetapi akan lebih mudah untuk mengatasinya.
Coba kita tinjau problem yang terjadi di Yerusalem, (Kisah 6:1). Dalam teks ini dinyatakan adanya problem di jemaat Yerusalem dan pemicu problem di sana adalah sikap hidup pemimpin untuk melayani berdasarkan “Suku/Keluarga” dan sikap hidup semacam itu mencerminkan bahwa pemimpin tersebut tidak takut kepada Allah karena Allah berfirman bahwa Dia tidak pandang rupa (Roma 2:11; dan umatNya pun tidak boleh memandang rupa, Yakobus 2:1-4). Yitro mengantisipasi timbulnya masalah ini, itulah sebabnya ketika dia memberikan nasihat kepada Musa agar Musa memilih orang-orang untuk menolong dia di dalam kepemimpinannya dia berkata “...pilihlah di antara mereka yang takut akan Tuhan...” Keluaran 18:21.
Senang melihat keberhasilan orang lain.



Rabu, 29 Juni 2016

Pandangan Alkitab Tentang Pertobatan

Pandangan Alkitab Tentang Pertobatan


Ini adalah topik Alkitab yang sangat penting dan banyak disebut-sebut, sepertiga dari 27 kitab Perjanjian Baru menyebutnya. Mempelajari pertobatan tidaklah sukar tetapi aplikasi dari apa yang dipelajari adalah sangat sulit. Terdapat banyak contoh di Alkitab dimana orang diajari tentang pertobatan, diberitakan tentang pertobatan, bahkan Tuhan Yesus sendiri menghimbau agar-orang bertobat dari jalannya yang salah. Tetapi himbauan ini hanya didengar saja tanpa reaksi untuk melakukannya, Matius 3:2; Markus 1:15; 6:12; Lukas 13:3; 15:7; Kisah Rasul 2:38.
Orang-orang Kristen dan bukan Kristen akan menghadapinya. Tidak ada pepatah yang mengatakan sekali selamat maka akan selamanya selamat atau lazim disebut sekali Kristen akan selamanya Kristen. Setiap orang Kristen harus berdiri teguh dan jangan goyah oleh tipu daya ajaran-ajaran sesat, 1 Korintus 15:58, setia sampai mati dalam mempertahankan imannnya, Wahyu 2:10. Tidak sedikit orang Kristen yang jatuh dalam pencobaan, oleh karena itu perlu baginya untuk bertobat dari dosa-dosanya.
Orang-orang berdosa selalu hidup dalam perbuatan dosanya pasti akan binasa karena upah dari semua dosa yang telah dilakukan adalah kebinasaan kekal di dalam neraka, 2 Tesalonika 1:8; Yakobus 1:14-15. Pertobatan adalah suatu perintah yang sering disalah mengerti dan juga sering disebut perintah yang dilupakan. Pertobatan adalah suatu perintah yang paling sukar untuk ditaati oleh kebanyakan orang. Melalui pertobatan, Allah memanggil semua umat manusia, apakah itu anggota gereja maupun orang-orang duniawi agar terhindar dari hukuman  yang k ekal. Ada beberapa hal yang perlu untuk kita ketahui tentang pertobatan, agar setiap orang benar-benar mengetahui apakah pertobatan itu.
Pertama, Apakah pertobatan itu?
Ada dua istilah kata pertobatan dalam bahasa Yunani, pertama Metamelomai. Enam kali dalam Perjanjian Baru dengan kata kerja (bentuk kata sifat digunakan dua kali) dan ini digunakan dalam Matus 27:3. Ayat ini ditujukan pada Yudas Iskariot. Juga di 2 Korintus 7:8,10. Kata ini berarti penyesalan yang dalam, ini akan membawa seseorang kepada pertobatan yang benar, tetapi dalam kasus Yudas, ia menyesali dosa-dosanya tetapi ia tidak kembali kepada Allah untuk merubah arah hidupnya, ia menjadi tersesat, Kisah Rasul 1:25.
Kata yang kedua Metanoeo digunakan 34 kali dalam kata kerja dan 24 kali dalam bentuk kata benda. Kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru untuk mencatat kesungguhan pertobatan, yang menunjukkan bahwa orang berdosa harus membuat “perubahan rohani.” Di dalam kata ini adanya “Perubahan Pikiran,” menghasilkan “perubahan kelakuan” ini melibatkan berpaling dari dosa dan kembali kepada Allah.  “Perubahan pikiran” dari mereka yang mulai membenci kesalahan-kesalahan dari perbuatan mereka dan menentukan untuk berusaha hidup lebih baik dengan perbuatan yang benar.  Ada dua pandangan dalam pertobatan yaitu positif dan negatif.
Yang negatif antara lain: Pertama ialah bukan ketakutan (Kisah 24:25) – Felix gemetar tetapi tidak ada dasar untuk percaya dan bertobat. Kemudian yang kedua ialah Bukan dengan berdoa (Matius 7:21; Lukas 13:3); ketiga Bukan dengan pendirian (Kisah 2:37), keempat, Bukan dukacita karena berdosa (2 Korintus 7:10) – Dukacita Ilahi membawa kepada pertobatan, tetapi itu saja belum cukup, dan kelima ialah Bukan reformasi kehidupan (Lukas 3:7,8). Reformasi hidup dihasilkan oleh pertobatan. Yang positif: pertama ialah Perubahan pikiran yang akan menghasilkan dukacita Ilahi dan hasilnya pertobatan dalam tindakan kehidupan, Matius 21:28-29. Kedua ialah Menyesali. Orang berdosa harus menyesali perbuatannya telah berdosa melanggar hukum Allah kemudian merubah kelakuannya dan kelihatan dalam kehidupannya, Matius 3:8; Kisah Rasul 19:19.
Kedua, Pertobatan adalah penting karena Yesus memberi dua pilihan antara bertobat atau binasa (Lukas 13:3).
Neraka adalah tempat yang sangat mengerikan, tidak ada pertobatan yang akan diberikan di tempat ini. Oleh sebab itu Allah memerintahkan agar semua orang dimana pun berada agar bertobat, Kisah 17:30-34. Inilah cara Allah dalam menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan kekal.
Ketiga, Bagaimana dan mengapa bertobat?
Allah menginginkan semua manusia terhindar dari kebinasaan, karenanya Ia memberi jalan bagi manusia untuk selamat yaitu melalui FirmanNya yang diberitakan. Semua orang harus respon atas panggilan FirmanNya dengan melakukan tuntutan FirmanNya (Kisah 11:18; Roma 2:4-7) Dukacita Ilahi membawa kepada pertobatan (2 Korintus 7:10) dan ini datang melalui takut akan Allah yang memberikan pengetahuan bahwa kehidupannya selama ini adalah salah, Amsal 1:7; 2 Korintus 5:10.
Keempat, Apakah hasil dari pertobatan?

Orang jahat akan meninggalkan perbuatannya yang jahat. Ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan besar dalam hidupnya. Dia akan mencintai Allah, melakukan apa yang diperintahkan oleh FirmanNya dan membenci perbuatan-perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Hal ini akan mendatangkan kebaikan juga kepada orang lain, karena ia akan mencintai sesama saudara seiman dan mendorong orang berdosa agar meninggalkan dosa dengan mengajar Firman Allah. Tentu saja ia harus bertambah dalam iman dan perbuatan serta setia sampai akhir hidupnya, inilah kemenangan setiap orang Kristen.

Selasa, 28 Juni 2016

Pandangan Alkitab Tentang Dosa

Pandangan Alkitab Tentang Dosa


Dosa adalah sesuatu hal yang tidak lagi dianggap penting untuk diperhatikan oleh kebanyakan orang, sepertinya dosa adalah hal biasa dan wajar-wajar saja dilakukan. Orang lebih cendrung memfokuskan pikirannya kepada bagaimana memperoleh kehidupan, uang dan materi lainnya sehingga lupa kepada prinsip halal atau haram.
Kalau bagi kebanyakan orang dosa adalah hal biasa, tidak perlu dibesar-besarkan tetapi, bagi Allah dosa adalah sesuatu yang sangat serius, dosa akan membawa manusia kepada kebinasaan kekal.
Apakah sesungguhnya dosa itu? Untuk menjawab ini orang perlu kembali kepada Alkitab untu mendapat artinya. Dalam bahasa Yunani kata dosa adalah “hamartia” artinya missing the mark, yakni tidak mengenai sasaran. Dan maksud sesungguhnya dari kata ini ialah “tidak dikenal Allah” Matius 7:23.
Dosa seperti penyakit yang sangat berbahaya dan sangat mematikan. Kita mengetahui ada beberapa penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan diantaranya: AIDS, Kanker, HIV, dll. Kecenderungan manusia adalah untuk segera mengobati semua jenis penyakit, berbagai langkah diupayakan untuk mengobatinya mulai dari dokter, dukun dan pengobatan-pengobatan alternatif. Tetapi dosa yang juga mematikan tersebut, tidak diupayakan untuk mencari cara untuk menyembuhkannya. Dosa lebih berbahaya dari pada penyakit jasmani, sebab dosa adalah penyakit rohani yang dapat mematikan jiwa rohani seseorang kekal di dalam api neraka. Hanya Alkitab yang menjelaskan banyak hal tentang dosa dan akibat yang akan dialami. Ada 4 hal yang akan saya bahas lebih jauh tentang dosa dan akibatnya bagi manusia. Semua ini berdasarkan apa yang Alkitab katakan. Agar kita menaruh perhatian penuh.

Pertama, Apakah dosa itu?
1 Yohanes 3:4 “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialahpelanggaran hukum Allah.” 1 Yoh 5:17 “Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.”
Kita selalu membuat kesalahan dan itu adalah dosa, kesalahan besar, kesalahan kecil itu sama saja, tetap dosa dan konsekuensinya adalah kebinasaan kekal, ada pun dosa yang tidak membawa mati ialah seseorang yang menyadari kesalahan dari dosanya dan bertobat dari jalannya yang salah lalu kembali kepada Allah.
Yakobus 4:17 “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
Firman Allah adalah landasan dalam berbuat baik, sebab itu adalah petunjuk bagi semua orang dalam berbuat baik yang menyenangkan Allah.
Allah memberi syarat bagi semua manusia untuk lepas dari dosa yaitu percaya terhadap cara Allah dalam menyelamatkan, selamat dari dosa bukan didasari oleh usaha-usaha manusia meskipun itu dengan cara penyiksaan diri agar menjadi suci.

Kedua, Apakah dan bagaimanakah sifat-sifat dosa itu?
Di dalam Yesaya 55:7 dan Matius 5:28 menjelaskan bahwa manusia dapat berbuat dosa dengan pemikirannya, dan dalam Galatia 5:19-21 Paulus membuat daftar dosa-dosa yang dibuat manusia. Kita dapat berbuat dosa dengan perbuatan dan tindakan kita. Sifat yang tidak bersahabat pun dapat membuat kita jatuh ke dalam dosa, Matius 5:44-48.
Di dalam Yakobus 1:14-16 dikatakan bahwa dosa adalah bujukan, Ibrani 3:13; Kejadian 3:6. Banyak orang menyukai kesenangan yang diberikan oleh dunia tetapi tidak semua kesenangan-kesenangan itu berguna bagi manusia itu sendiri. Kebanyakan kesenangan-kesenangan itu hanya bersifat semu atau kesenangan sementara saja setelah itu manusia menerima akibatnya yaitu kesengsaraan. Kita sering menyaksikan bagaimana orang mencari kesenangan dengan minuman keras, obat-obat terlarang , dll. Mereka memang mendapatkannya tetapi itu hanya sesaat saja dan setelah itu mereka harus menanggung akibat yang ditimbulkannya.

Ketiga, Akibat yang dihasilkan oleh dosa
Manusia akan terpisah dan dijauhkan dari hadirat Allah, Yesaya 59:1-2. Allah akan meninggalkan orang yang mengabaikanNya, 2 Tawarikh 15:2. Dengan demikian manusia akan hidup seperti seorang musafir di dalam dunia ini dan tidak mempunyai tujuan kemana ia akan pergi setelah kehidupan dunianya berakhir, kepada Allah?  Tentu saja tidak sebab ia sudah dijauhkan dari hadirat Allah.
Dosa memisahkan  manusia dalam : Hidup (Amsal 28:9), Kematian (Ibrani 9:27) dan Hukuman (Maz 1:5).
Dosa memperbudak manusia dalam pikiran, Roma 1:21-24, Belenggu hawa nafsu, dan keinginan-keinginan yang bertentangan dengan Firman Allah.
Hal ini akan melemahkan kehidupan manusia, 1 Korintus 3:1-3, dan upahnya adalah kebinasaan yang kekal, Roma 6:23; 2 Tesalonika 1:7-9.

Keempat, Apakah obat untuk menyembuhkan dosa?
Jika setiap orang  menyadari bahwa dosa adalah suatu penyakit yang mematikan, maka dia perlu mempunyai iman kepada Yesus Kristus (Yoh 3:16). Bertobat dari dosa-dosanya (Kisah 2:38), mengaku Kristus sebagai Anak Allah (Kisah 2:37) dan dibaptis ke dalam Kristus untuk jalan keampunan dosa (Kisah 2:38; Markus 16:16) serta tetap setia dalam kehidupannya sebagai orang Kristen (Wahyu 22:14; 1:21). Amin



Jumat, 03 Juni 2016

Pembawa Damai


Pembawa Damai (The Peacemakers)
Matius 5:9
Oleh: Anton Borneo

"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."  Matius 5:9[1]
"Blessed are the peacemakers, For they shall be called sons of God." (Matt 5:9, NKJV)[2]


Pendahuluan:
 Di dalam Injil Matius 5:1-7:29, yang biasanya disebut khotbah Yesus di Bukit, berisi pernyataan dari prinsip kebenaran Allah. Ayat ini (Matius 5:9) adalah salah satu dari isi khotbah Yesus dibukit. Dan juga salah satu ucapan bahagia/berkat yang menekankan pentingnya bagi anak-anak Allah sebagai pembawa damai bagi dunia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, damai berarti tidak ada perang, keadaan tidak bermusuhan, rukun.[3] Untuk mewujudkan damai/keadaan tidak bermusuhan ini manusia harus berdamai dengan Allah, sesama manusia, bahkan juga musuh kita sebagai wujud kita disebut anak-anak Allah. Kita dapat belajar tentang pembawa damai . Apa yang dapat kita pelajari mengenai  Pembawa  damai?
Ada dua hal yang dapat kita pelajari berhubungan dengan pembawa damai
Diskusi:
I. Berbahagialah orang yang membawa damai, Blessed are the peacemakers,
Berbahagialah, blessed (New Kings James Version, selanjutnya disingkat NKJV), lebih tepatnya diartikan diberkati. Ayat ini merupakan bagian dari ucapan bahagia ketika Yesus berkhotbah di bukit. Pembawa damai, peacemakers (NKJV), mengacu kepada orang yang mengusahakan damai sehingga tercipta situasi yang kondusif.[4] Kata Yunani ειρηνοποιος – EIRÊNOPOIOS, "pembawa damai/peacemaker", berasal dari kata ειρηνη - EIRÊNÊ , " damai ", yang sepadan dengan kata Ibrani שלום - "SYALOM" dan muatannya mencakup " segala kenyataan yang membuat orang dapat menikmati kebaikan."[5] Kata ini tidak sekedar berarti “tidak bertengkar”, tetapi juga harus ada hubungan yang benar/baik. Salah satu sifat/karakter yang sangat penting di dalam Alkitab adalah "pembawa damai" (peacemaker). Karakter/sifat ini secara langsung menunjuk kepada Yesus Kristus. Dia disebut sebagai "Raja Damai" yang memerintah dengan damai sejahtera (Yes. 9:5-6). Kata-kata “orang yang membawa damai” seharusnya lebih tepat diterjemahkan “orang-orang yang mengusahakan damai.” Membawa damai adalah sikap aktif, kreatif, dan berinisiatif untuk mencari solusi atau jalan pemecahan demi perdamaian, meski jalan penuh tantangan. Di tengah dunia yang penuh dengan dendam dan permusuhan ini, orang percaya seharusnya mengusahakan damai. Menjadi pembawa damai (mengusahakan damai) bisa dimulai dari dalam lingkup yang kecil dulu, yaitu di dalam keluarga. Selanjutnya kita bisa menjadi pembawa damai di lingkungan tempat tinggal, gereja, tempat kerja, dan dalam masyarakat luas (Roma 12:18; Ibrani 12:14) . Aplikasi: kita dapat menjadi pembawa damai dengan cara menjaga sikap kita, mengupayakan penyelesain dan mengampuni, serta memberikan nasihat yang membangun bagi sesama kita.

II. Disebut anak-anak Allah, For they shall be called sons of God.
Ungkapan "mereka akan disebut anak-anak Allah" dalam bahasa Yunani ditulis dalam bentuk future passive yang merujuk pada Allah.[6] Artinya Allah akan mengakui mereka sebagai anak-anak-Nya sendiri yang bersifat relasional. Kita disebut sebagai anak-anak Allah (bentuk jamak, bukan tunggal. Anak Allah (tunggal) lebih ditujukan kepada Yesus Kristus). Dalam artian kita serupa dengan Allah yang memiliki sifat yang sama sebagai pendamai. Ada beberapa ayat yang menunjukkan hubungan ‘Allah’ dengan ‘damai’:
-         Allah disebut Allah damai sejahtera (1 Tes 5:23; Ibrani 13:20).
-          Allah disebut sebagai sumber damai sejahtera (Roma 15:33; 2 Korintus 13:11).
-         Mengusahakan damai adalah pekerjaan Allah (Efesus 2:14-16; Kolose 1:20).
Dengan demikian sifat Allah harus melekat di dalam diri orang Kristen yang merupakan anak-anak Allah. Kita harus menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Allah dengan menjadi pembawa damai bagi orang-orang di sekitar kita. Sifat anak mewakili sifat, demikian juga anak-anak Allah mewakili sifat Allah di bumi ini.





Kesimpulan:
Kita telah mengetahui bahwa setiap orang percaya harus menjadi pembawa damai bagi dunia, sebagai mana kita  memiliki serupa dengan Allah dalam mengusahakan damai. Sudahkah kita menjadi pembawa damai? Dengan menjadi pembawa damai,  tiap orang mengenal kita sebagai anak-anak Allah. Amin

Daftar pustaka:
Alkitab terjemahan baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2013
alkitab.sabda.org





[1] Kutipan ayat Alkitab diambil dari alkitab.sabda.org
[2] Kutiapan ayat Alkitab dalam bahasa Inggris terjemahan New Kings James Version diambil dari Alkitab Elektronik Android
[3] KBBI Mobil Version 1.1.3
[4] Kondusif artinya memberi peluang pada hasil yang diinginkan yang bersifat mendukung (KBBI Mobile).